Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2015

Jika Memang Harus Gagal, Bukan Karena Kita Berputus Asa

oleh: Bagas Heradhyaksa*

 Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr: 56)

Ayat di atas adalah suatu motivasi yang diberikan Allah kepada kita sebagai hamba-hambaNya. Suatu kalimat indah yang diucapkan melalui perantara Nabi Ibrahim. Begitu hebatnya kalimat tersebut, hingga diabadikan dalam suatu kitab yang sangat luar biasa, yaitu Alquran.

Sebenarnya kalimat atau ayat tersebut adalah rangkaian dari kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan kabar gembira dari malaikat bahwa Nabi Ibrahim akan mendapatkan anak walaupun Nabi Ibrahim dan istrinya sudah sangat tua usianya, (lihat pula surat Hud ayat 69 – 74). Namun, walaupun seakan-akan mustahil atau paling tidak sudah sangat kecil harapan yang dipunya oleh Nabi Ibrahim dan istrinya untuk dapat memiliki anak, Nabi Ibrahim tetap optimis dan enggan untuk berputus asa dengan mengatakan bahwa yang berputus asa dari rahmat Tuhannya hanyalah orang-orang yang “dhol”, kata dhol ini sama persis seperti yang ada pada Al-Fatihah ayat 7 dan Adh-Dhuha ayat 7. Pada akhirnya, melalui kesempatan yang seakan-akan mustahil tersebut, Nabi Ibrahim dapat memiliki keturunan.

Dari kisah tersebut, mari kita bersama-sama pegang dengan teguh Al-Hijr ayat 56 untuk tidak pernah berputus asa walaupun kemungkinan yang kita miliki sangat kecil atau bahkan hampir mustahil. Karena ketika seseorang sudah berputus asa maka dia akan menjadi orang yang sesat.

Jika memang pada akhirnya kita gagal dalam meraih sesuatu, paling tidak itu bukan karena kita yang menyerah dan berputus asa.

Teruslah berusaha sampai detik terakhir dan sampai kesempatan terakhir. Tentu tidak mungkin dalam hidup selalu meraih kesuksesan atau segala yang kita inginkan akan terwujud. Ada kalanya dimana kita harus mengalami kegagalan dan kenyataan tak sesuai harapan. Biarkanlah kegagalan tersebut terjadi karena kehendak Allah, bukan karena kita yang menyerah dan berputus asa. Segera evaluasi kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Jangan sampai kesalahan-kesalahan tersebut kembali terulang sehingga kembali menyebabkan kegagalan. Jadikan kegagalan tersebut sebagai pelajaran yang berharga. Jangan sampai berputus asa, karena hanya orang sesat yang berputus asa.

Jika seseorang kehilangan hartanya,
Mungkin orang tersebut tetap bisa kembali berjuang.
Jika seseorang kehilangan anggota tubunya,
Mungkin orang tersebut tetap bisa bangkit.
Jika seseorang kehilangan anggota keluarganya,Mungkin orang tersebut tetap bisa tegak kembali.

Namun..
Jika seseorang sudah kehilangan harapan,
Maka orang tersebut tidak mungkin bisa kambali berjuang, bangkit dan tegak kembali.
Dan harapan satu-satunya yang tidak mungkin bisa hilang
Hanyalah harapan yang disandarkan pada Allah SWT.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/06/28/70829/jika-memang-harus-gagal-bukan-karena-kita-berputus-asa/#ixzz3eTOdL4sR


*penulis merupakan Ketua Rohis SMA 3 Semarang tahun 2009 dan ketua Imasga periode 2015

Senin, 28 Oktober 2013

Saatnya Menjadi Muslim Paling Utama!

Saatnya Menjadi Muslim Paling Utama!


Sejujurnya, setiap jiwa menghendaki sesuatu yang paling utama. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin menikah, tentu ia akan mencari calon yang paling baik untuk menjadi pendamping hidupnya. Hal ini wajar dan manusiawi, asalkan semua itu tetap dalam rangka kesempurnaan iman, bukan hawa nafsu.
Hal serupa juga bisa kita temui dalam dunia olahraga, katakanlah sepakbola. Semua tim, tentu ingin menjadi juara, dan setiap pemain ingin menjadi yang terbaik. Ini adalah fitrah manusia. Selalu ingin menjadi yang terbaik.

Nah, sebagai Mukmin kita juga mesti memiliki motivasi dan semangat tinggi untuk menjadi yang terbaik, tidak saja dalam hal profesi atau pun keahlian dan pendidikan, tetapi dalam konteks yang lebih mendasar, yakni dalam hal keimanan, sehingga kita berkesempatan besar meraih titel terbaik sebagai Mukmin yang paling utama.


Sama dengan proses dan penilaian serta penetapan kriteria dalam setiap pemilihan dan penentuan yang terbaik, menjadi Mukmin yang paling utama pun juga demikian. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibn Amr.


“Orang Mukmin yang paling utama keislamannya adalah mana orang-orang Muslim selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya dari orang-orang Muslim lainnya; orang Mukmin yang paling utama keimanannya adlah orang yang paling baik di antara mereka perangainya; orang berhijrah yang paling utama adalah mereka yang berhijrah dari segala sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala; dan jihad yang paling utama ialah orang yang berjihad (mengendalikan) nafsunya dalam Dzat Allah.” (HR. Thabrani).

Rabu, 16 Oktober 2013

Jika Ini Ramadhan Terakhir Kami

Jika Ini Ramadhan Terakhir Kami
oleh Isti Noor Masita

Ketika detik waktu berhenti,
Kehidupan abadi mulai menanti,
Setiap manusia dimintai pertanggung jawaban diri,
Amal ditimbang,mau masuk kemana kita nanti,
Surga yang penuh kenikmatan atau neraka yang penuh siksaan?
Semua itu adalah pilihan,
Wahai insan mari kita renungkan,
Rabbi....
Jika ini pertemuan terakhir dengan ramadhan,
Sungguh kesempatan semakin sempit dan waktu semakin sedikit,
Sedangkan dosa masih setinggi langit,
Dan amal kebaikan masih cacat terlihat,
Tentulah jika ini ramadhan terakhir kami,
Kami takkan mau menjadi hambaMu yang merugi,
Takkan kami biarkan waktu yang hanya berlalu,
Siang malam kami habiskan untuk beribadah untukMu,
Berharap setiap helaan nafas hanya tersebut asamaMu,
Menghamba diri dengan tubuh dan qalbu menyatu,
Lantunan dzikir terus terucap tanpa kenal jemu,
Malam akan kami sibukkan untuk bertarawih..bertahajud..mengadu padaMu,
Lantunan ayat quran akan terus kami dendangkan yang tiada henti memaknai setiap firmanMu,
Berlomba lomba,berharap Kau pertemukan kami dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan,
Akankah kami pantas mendapat syurgaMu, Rabbi?
Tentulah jika ini ramadhan terakhir kami,
Seluruh materi yang telah Engkau beri akan kami berikan di jalan jihad ini,
Tentu tak hanya ingin sekadar materi,
Tetapi seluruh jiwa dan raga yang kami persembahkan,
Syahid di jalan dakwah ini adalah yang kami impikan,
Tentulah jika ini ramadhan terakhir kami,
Tak kan kami lewatkan waktu untuk orang orang tersayang,
Terkhusus untuk kedua orangtua,
Sisa waktu akan kami habiskan untuk memberi apa yang telah mereka harapkan,
Kepada mereka tak kan kan kami lupakan untuk memohon maaf atas segala kesalahan,
Berdoa agar syurga nanti kelak menjadi tempat kembali pertemuan,
Sungguh tiada yang mengetahui kapan maut akan menjemput,
Karena itu adalah rahasia kuasaNya,
Sebagai hamba hanya mampu terus berusaha,
Meminta belas kasihNya,
Memperbanyak bekal agar mampu mendapat syurgaNya,
Bersiap diri menanti jemputan izrail,
Jadikan ramadhan ini menjadi ramadhan yang paling berseri dan berarti sebelum maut itu menghampiri,
Illahi rabbi...
Yogyakarta, 25 juli 2013

Bismillahhirrahmanirrahim...
Assalamualaykum wr wb...
Teruntuk saudara saudara imasga dimanapun berada,
Sungguh, aku merindukan kalian semua. Rindu berkumpul dengan orang orang sholeh seperti kalian. Tersatukan dalam lingkaran ukhuwah.
Mungkin memang kita belum pernah saling berjabat,
Tapi bukankah ukhuwah ini akibat dari iman?
Maka sebelum tangan berjabat, bibir berucapa,ukhuwah ini sudah ada,
maka jangan pernah lelah untuk terus berbenah iman, agar ukhuwah ini tetap utuh tersatukan.
Jarak yang mungkin memisahkan,semoga bukan menjadi penghalang untuk terus saling mendoakan,justru jarak yang ada,semoga bisa menjadi kekuatan doa itu dikabulkan.
Bismillah...semoga Allah pertemukan kita di syurgaNya,aamiin.. :')
Wassalamualaykum wr wb

Sabtu, 13 April 2013

The Journey to Meet Istidroj

The Journey to Meet Istidroj

oleh Bagas Heradhyaksa*


43. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
( Al-An’am (6) ayat 43 – 44)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaykum wr wb

Mari kita bersama-sama mentadaburi Surat Al-An’am ayat 43 – 44. Mungkin akan terasa lebih nimat jika kita memahami makna dari ayat 31 -50 sekalian yang merupakan satu ‘ain atau satu makhroj, tidak terpotong hanya pada dua ayat tersebut. Namun, pada kesempatan kali ini, mari kita bersama-sama mengkhususkan atau lebih berkonsentrasi pada ayat 43 – 44 terlebih dahulu saja, adapun ayat lainnya bisa kita tadaburi di lain kesempatan.

Di ayat 43, Allah bertanya kepada kita, mengapa ketika sedang mendapat siksaan kita tidak memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri ?

Mari kita coba buat cara agar lebih mudah dalam memahami ayat ini.
Coba aplikasikan ayat tersebut di dalam kehidupan nyata kita.

-        Mengapa ketika kita sedang dapat banyak cobaan kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?
-        Mengapa ketika nilai akademis kita jatuh, kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?
-        Mengapa ketika tubuh didatangi banyak penyakit, kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?
-        Mengapa ketika bayak yang memusuhi kita, kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?
-        Mengapa ketika usaha yang sudah dibangun dengan susah payah, lalu hancur lebur, kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?
-        Mengapa ketika banyak orang yang memfitnah dan menjauhi kita, kita tidak datang kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri ?

Apakah Anda sudah dapat merasakan potongan ayat 43 ini lebih mengena di hati ?
Buatlah sendiri dengan kalimat Anda sendiri, siksaan apa yang mungkin atau sedang Anda alami, dan apakah ketika siksaan itu menimpa, kita sudah datang ke Allah dengan tunduk merendah diri ?

Lanjut menuju ke potongan ayat selanjutnya.

Bahkan hati mereka telah menjadi keras.

-        Bukannya mendekat kepada Allah dengan tunduk dan merendah, malah hatinya yang dikerasin, tidak mau mengakui bahwa semua terjadi karena kesalahan diri kita sendiri. Kitalah yang telah mendzolimi diri kita sendiri. Jangan mecari-cari alasan !
-        Bukannya mendekat kepada Allah dengan tunduk dan merendah, malah semakin menjadi-jadi maksiatnya. Makin berani ngelawan Allah. Makin keras hatinya.
-        Bukannya mendekatkan diri kepada Allah dengan tunduk dan merendah, malah semakin menjauh. Ibadah jadi tidak karuan. Yang sunnah hilang satu persatu. Yang wajib dikerjain sekenanya saja, ala kadarnya saja. Makin keras hatinya, makin tidak takut sama dosa.
-        Bukannya mendekatkan diri kepada Allah, malah dosa-dosa dijadikan kebiasaan, syariat diterabas dimana-mana, Qur’an dan hadist dianggap sebuah mitos belaka. Makin keras hatinya, makin berani melawan Allah.


dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

Sekarang, segala perilaku kita yang menyimpang dari Qur’an dan hadist, jadi kelihatan indah di mata kita.
Kemaksiatan-kemaksiatan yang kita kerjakan dianggap lumrah oleh diri kita sendir.
Mengapa ? Karena Hati kita sekarang sudah keras dan syetan membuat perilaku tersebut jadi indah.
Mulai berani ngelawan hukum-hukum Allah, awalnya dikit demi sedikit ngelanggar syariat, lama-lama jadi terlihat lumrah dan indah, syetan yang ngebuat kayak gitu.
Jadi tidak sadar sudah terjebak dalam lingkaran syetan sejauh ini. Semua terasa wajar-wajar saja. Hati sudah terlanjur keras menerima masukan-masukan agama. Kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan agama dan berbau maksiat dianggap suatu yang lumrah dan wajar.
Dan ternyata, baru bisa sadar ketika sudah berada jauh di tengah samudera kemaksiatan.
Ya, semua sudah terlanjur terlihat lumrah dan indah. Hal yang wajar.
Saat itu lah, kita akan susah untuk bisa keluar dari kebiasan maksiat tersebut. Karena semua sudah terlihat biasa-biasa saja, padahal hal tersebut tidak disukai Allah.

Mari kita pahami bersama-sama ayat 43 ini secara keseluruhan.

Saat siksaan datang kepada kita, mengapa kita tidak datang dengan tunduk dan merendah kepada Allah ? Mengapa justru semakin mengeraskan hati ? Jika begitu terus dan tidak segera bertaubat, maka bisa-bisa syetan akan menjadikan perilaku buruk kita itu terlihat bagus bagi diri kita sendiri.

Saudaraku, berhati-hatilah ketika hal tersebut sudah menimpa diri kita. Kita tidak sadar lagi jika kita sudah terjebak dalam lingkaran syetan kemaksiatan. Tidak sadar lagi jika kita sudah semakin menjauh dari Allah. Justru kita mengira bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang baik, itulah tipu daya syetan.

Sungguh kita perlu mewaspadai, jangan pernah berkompromi dengan kemaksiatan. Karena kemaksiatan itu mempunyai snow ball effect. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, dan kita tidak menyadarinya jika kita sudah hampir membangun gunung kemaksiatan dalam diri kita. Mengapa bisa begitu ? Sekali lagi, karena syetan membuat kita memandang kemaksiatan yang kita lakukan itu indah dan bagus di mata kita sendiri.

Oleh karenanya, kita harus benar-benar aware  terhadap segala kemungkinan pintu masuknya syetan. Kita harus segera cut semua jalan-jalan yang berpotensial jadi arah masuknya syetan. Bukan berarti harus keras, kaku atau mengekang, percayalah, jalan-jalan yang diperbolehkan syariat itu justru jauh lebih indah dan nikmat, bahkan kekal abadi. Percayalah !

Jika kita berkompromi dengan syetan, bisa-bisa kita di ajak menuju ke samudera kemasiatan untuk menemaninya di neraka kelak.


Al-An’am ayat 44


44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

Coba perhatikan ayat ini dengan seksama.
-        Ketika kita sudah melupakan perintah yang diberikan Allah kepada kita.
-        Ketika kita sudah mulai jauh dari Allah.
-        Ketika kita sudah mulai sering bersentuhan dengan kemaksiatan.
-        Ketika kita sudah tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan yang haram.
-        Ketika kita sudah mengira segala dosa-dosa kita itu adalah perbuatan yang bagus.

Maka Allah justru akan membuka semua pintu kesenangan-kesenangan untuk kita.

-        Kita akan merasa harta kekayaan kita justru bertambah banyak.
-        Kita akan merasa prestasi-prestasi kita kian melejit.
-        Banyak teman-teman yang datang mengerumuni dan mengagumi kita.
-        Popularitas jadi semakin tinggi.
-        Segala yang kita inginkan seakan-akan terpenuhi dalam sekejap.
-        Kita pun menjadi senang dan bangga karenanya.

Dan saat itulah, saat kita sudah mulai berani melawan Allah. Dilanjutkan dengan kesenangan demi kesenangan yang kita dapatkan. Ketika kita sudah merasa bahagia yang tiada terkira. Ketika kita sudah mulai merasa di puncak kejayaan. Ketika kita sudah merasa bahwa kita adalah The King of The word ! Dan, BBUUUUMM !! Allah akan menyiksa kita dengan sekonyong-konyong. Dan saat itulah, kita akan K.O

Kita akan klenger, tertunduk lemas bingung tidak tahu harus melakukan apalagi. Merasa segala sesuatunya sudah tamat. Tak tahu lagi kemana harus melangkah. Semua sudah terlanjur terjadi. Barulah saat-saat seperti ini. Kita akan tertunduk merendahkan diri datang kepada Allah.


Allah itu Baik Pake Banget.

Saran saya, bersyukurlah ketika kita masih di beri kesempatan untuk hidup, karena berarti kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Sudahlah, tidak usah terlalu meikirkan masa lalu kita. Masa-masa dimana kita selalu bermandikan dosa dan maksiat. Hingga akhirnya kita sekarang di hancur leburkan oleh Allah dengan siksaan yang berat. Mengapa ? Karena Allah itu Maha Pemaaf. Pokoknya Allah itu baik banget, bahkan lebih baik dari apa yang pernah kita bayangkan.

Tidak percaya ? Baiklah, Mari kita bersama-sama membuka Ayatnya.

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Az-Zumar (39) ayat 53

Atau di hadist ini

Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz Al 'Anbari telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Abu Yunus dari Simak dia berkata; An Nu'man bin Basyir berkhuthbah, maka dia berkata;Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang pada suatu ketika dia membawa perbekalan dan minumannya di atas unta lalu dia berjalan di padang pasir yang luas. kemudian dia beristirahat sejenak dan tidur di bawah pohon. Tiba-tiba untanya lepas, dia pun mencarinya ke perbukitan, namun dia tidak melihat sesuatu sama sekali, kemudian ia mencari lagi di perbukitan yang lain, namun juga tidak melihatnya, ia pun naik lagi keperbukitan yang lain, tapi tetap tidak menemukan sesuatupun. Akhirnya dia kembali ke tempat istirahatnya. Tatkala dia sedang duduk, tiba-tiba untanya datang kepadanya seraya menyerahkan tali kekangnya ke tangannya. Maka sungguh kegembiraan Allah dengan taubatnya seorang hambanya melebihi kegembiraan orang ini ketika dia mendapatkan untanya kembali dalam keadaan seperti semula.” (HR. Muslim)

Pada kesempatan kali ini, saya tidak ingin terlalu banyak membahas ayat ini terlebih dahulu. Karena saya pikir tulisan saya sudah lumayan panjang, sudah masuk page 5. Yang saya takutkan nanti Anda justru bosan membacanya. Ya sebenarnya kalau boleh jujur mungkin banyak dari Anda yang sudah bosan membaca tulisan saya, jangankan tulisannya , wajah penulisnya saja sudah ngebosenin.
Oke, Pahamilah sendiri Surat Az-Zumar ayat 53 dan hadist-hadist yang mendukung lainnya. Jika perlu sekalian buka kitab tafsir dan tanyakan kepada ustadz yang memang berkompeten. InsyaAllah jika ada kesempatan kita akan bersama-sama berdiskusi mengenai betapa baiknya Allah.

Sekian dari saya. Al-An’am ayat 43 – 44 adalah sebuah peringatan untuk kita. Jadi jangan sampai kita adalah golongan yang dimaksud dalam Al-An’am 43 – 44 tersebut. Jangan sampai ! Stay Alert ! Jauhi segala kemungkinan yang dapat membuat kita terseret dalam apa-apa yang dimaksud dalam Al-An’am 43 – 44.

Akhirul Kalam
Wassalamu’alaykum Wr Wb

*) penulis adalah mahasiswa hukum undip dan mantan ketua rohis sma 3 semarang

Selasa, 26 Maret 2013

Kiat Tawadhu'


Kiat Tawadhu'

Barang siapa tawadhu' di dunia karena Allah, maka Allah 
mengangkat (derajat)nya pada hari kiamat. 
(HR. Al Baihaqi, shahih lighairihi)

Tawadhu’ berasal dari kata tawadha'a-yatawadha'u-tawadhu'an yang artinya merendahkan diri, rendah hati, atau meletakkan di bawah. Pengertian terakhir itu senada dengan wadha'a yang artinya tempat atau letak. Secara istilah, tawadhu' berarti menganggap orang lain lebih mulia dari diri kita dan tidak merendahkan mereka. Tawadhu' lebih dekat dengan istilah rendah hati dalam bahasa Indonesia, tetapi ia bukan sikap minder atau rendah diri.

Bagaimana kiat agar kita mudah tawadhu'? Intinya adalah bagaimana kita bisa melihat sisi-sisi kebaikan dan keunggulan orang lain sehingga kita dapat belajar dari kemuliannya sekaligus tidak merasa lebih mulia darinya.

Ketika bertemu dengan orang yang lebih muda, katakan pada diri kita: "Orang ini lebih muda dariku, tentu dosa-dosanya lebih sedikit dibandingkan denganku. Kemaksiatannya belum sebanyak diriku."



Ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, katakan pada diri kita: "Orang ini lebih tua dariku, tentu amal-amalnya lebih banyak dariku. Ia telah beribadah lebih lama dari diriku."

Ketika bertemu dengan orang yang lebih kaya, katakan pada diri kita: "Orang ini lebih kaya dariku, Ia telah dikaruniai sesuatu yang dengannya. Ia bisa berzakat dan bersedekah. Infaq dan jihad hartanya tentu lebih banyak dariku."

Ketika bertemu dengan orang yang lebih miskin, katakan pada diri kita: "Orang ini lebih sedikit hartanya dibandingkan diriku. Ia lebih mudah dan lebih singkat hisabnya dari diriku, dan lebih besar pahala sabarnya dibandingkan denganku."

Ketika bertemu dengan orang yang pandai, katakan pada diri kita: "Orang ini lebih banyak ilmunya dariku. Ia lebih alim dari diriku dan dengan ilmunya Allah meninggikan derajatnya."

Ketika bertemu dengan orang yang bodoh, katakan pada diri kita: "Ketika orang ini bermaksiat, dosanya lebih ringan dariku. Sebab ia bermaksiat dalam kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat padahal aku mengetahui ilmunya."

Ketika bertemu dengan anak muda yang telah bergabung dengan dakwah, katakan pada diri kita: "Pemuda ini sungguh luar biasa. Ia telah mendapatkan hidayah dan aktif berdakwah sejak muda. Sungguh pahalanya telah mengalir sejak usia muda yang saat di usia itu aku belum ada apa-apanya."

Ketika bertemu dengan orang tua yang baru bergabung dengan dakwah, katakan pada diri kita: "Orang tua ini sungguh beruntung. Ia mendapatkan hidayah Allah di penghujung usianya. Sedangkan diriku, sanggupkah aku istiqamah hingga di usia senja sepertinya?"

Ketika bertemu dengan ikhwah yang tilawahnya banyak, katakan pada diri kita: "Ikhwah ini tilawahnya lebih banyak dariku. Pahala dan kebaikannya juga lebih banyak dariku karena tiap huruf diganjar sepuluh kebaikan."

Ketika bertemu dengan ikhwah yang tilawahnya sedikit, katakan pada diri kita: "Ikhwah ini tilawahnya lebih sedikit dariku. Mungkin ia mentadabburi ayat demi ayat yang dibacanya, maka ia lebih utama karena kualitasnya daripada kuantitas tilawahku."

Ketika bertemu dengan ... katakan pada diri kita ...

Silahkan Anda yang meneruskan, karena pengalaman Anda insya Allah lebih banyak dan lebih memperkaya kiat tawadhu' untuk kita bersama. [Muchlisin] http://www.bersamadakwah.com